Monday, May 11, 2015

Jejak-jejak Kaki TUHAN

Jejak-jejak Kaki TUHAN


So'e adalah ibukota dari kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), bagian Timor Barat provinsi Nusa Tenggara Timur. Keadaan alam kabupaten ini tidaklah baik, selain curah hujannya sangat minim dan sumber mata air yang sedikit mengakibatkan usaha pertanian dan perkebunan tidak dapat menghasilkan secara maksimal. Akibatnya, kebutuhan pangan masyarakat terancam tidak terpenuhi.

Tahun 1916, domi (pendeta) yang pertama tiba di Mollo, bernama Guedings yang datang untuk membaptis murid yang percaya kepada Yesus. Mulailah didirikan sekolah dan tempat ibadah, tetapi belum ada nama gerejanya pada waktu itu. Gereja di Kapan (sekarang bernama Ebenhezer), gereja di Nunkolo, gereja di So'e (sekarang bernama Maranatha) sama seperti nama gereja mula-mula berdiri.

Indische Kerk merupakan gereja yang berada di Indonesia pada tahun 1817. Masuknya Injil pertama kali ke TTS tidak dapat dipisahkan dari kedatangan kolonial Belanda. Di setiap tempat yang ditaklukan dan dikuasai oleh Belanda selalu didirikan sekolah-sekolah (Sekolah Rakyat /SR). Di bangku pendidikan SR, injil diberitakan dalam pendidikan agama Kristen. Sebelum proses belajar mengajar dimulai selalu di awali dengan ibadah, di mana mereka bernyanyi, berdoa, dan membaca Alkitab. Demikianlah Injil diberitakan dan pendidikan memiliki peranan yang menentukan. Dengan demikian akhirnya murid-murid menjadi pengikut Kristen. Tetapi ada juga yang hanya ikut-ikutan, namun sebagian masyarakat lainnya masih tetap memegang kepercayaan suku mereka.

Tahun 1918, domi kedua adalah seorang militer yang bernama Krayer Van Alts. Dengan latar belakang militer, dia memerintahkan dengan tegas kepada semua masyarakat Mollo tanpa kecuali untuk menyerahkan semua berhalanya untuk dihancurkan. Tidak ada yang membantah, tetapi ada juga yang berhasil meloloskan diri dan menyembunyikannya, lalu melanjutkan ritual kepercayaannya secara sembunyi-sembunyi.

Tahun 1920, dilakukan baptis massal untuk orang-orang yang percaya kepada Tuhan Yesus, rambut masyarakat pria di daerah tersebut yang masih berkonde juga dipangkas semuanya. Dengan bertambahnya jumlah jemaat dan gereja, maka dibutuhkan lebih banyak pengajar dan pemimpin jemaat. Maka Belanda membuka sekolah Guru Inji di So'e pada tahun 1936 bernama STOVIL (Sekolah dengan jenjang pendidikan enam tahun. Dua tahun untuk memperoleh ijazah guru jemaat dan tiga tahun untuk ijazah pendeta). Semua biaya STOVIL ditanggung oleh pemerintah Belanda. Salah seorang pemuda yang bernama Benyamin Manuain dan seorang seniornya yang bernama Yonathan M.E. Daniel mendaftarkan diri menjadi siswa STOVIL. Karena dorongan hatinya untuk menjadi pemimpin jemaat.

Masa penjajahan Jepang
Pada masa Perang Dunia II, Jepang memutuskan untuk menduduki Indonesia dengan tujuan mendapat dukungan untuk melawan sekutu nantinya. Gereja mengalami kesulitan keuangan karena sumber keuangan yang selama ini berasal dari Belanda tidak diberikan lagi karena kekuasaannya telah berakhir di Indonesia. Kadatangan Jepang sebagai saudara tua dengan menunjukkan sikap manis yang demikian hanya untuk mengambil simpati masyarakat agar Jepang mendapat dukungan. Ketika membutuhkan hiburan, mereka mengambil banyak gadis untuk dijadikan sebagai pemuas nafsu mereka. Peristiwa traumatis yang dialami oleh gadis-gadis Indonesia, termasuk di Timor, meninggalkan bekas sampai sekarang. Kekejaman Jepang menumbuhkan sifat nasionalis yang kuat di dalam diri Benyamin Manuain seorang siswa STOVIL yang sedang mengajar di pulau Rote. Akhirnya pada tanggal 6 & 9 Agustus 1945 Jepang menyerah kalah karena kota Hirosima dan Nagasaki di bom oleh Amerika Serikat.

Tahun 1946 Belanda kembali ke Indonesia, semua siswa STOVIL yang belum menyelesaikan sekolahnya dipanggil kembali untuk melanjutkan pendidikannya hingga selesai. Akhirnya Benyamin Manuain menyelesaikan studinya tahun 1948 dan ditempatkan di kampung Ofu oleh ketua Sinode GMIT yaitu Edward Durkstra (Belanda) untuk periode 1947-1950). Semangat yang menyala di dalam diri Benyamin membuat ia harus bertentangan dengan Durkstra karena ia tidak menginginkan semua bantuan dari Belanda di samping sebuah prinsip yang dipegangnya bahwa urusan gereja dan negara tidak boleh dicampur-adukan, tetapi sebaliknya harus dipisahkan. “Gereja harus mandiri” katanya. Beberapa saat kemudian, mimpi Benyamin menjadi kenyataan di mana sponsor dari Belanda untuk semua pelayanan jemaat di Timor dihentikan sehingga jemaat Tuhan dengan sendirinya harus mendanai. Untuk memenuhi kebutuhan pelayanan gereja, maka jemaat belajar untuk membari lebih selain dari perpuluhan untuk meningkatkan persem-bahannya demi Kerajaan Allah, sehingga jemaat menjadi dewasa di dalam keuangan. Tahun 1960, Benyamin diangkat menjadi pemimpin jemaat di kota So'e yang sekarang menjadi gereja Maranatha. Beliau melayani jemaat yang berbahasa Indonesia, Sedangkan Yonathan melayani jemaat yang berbahasa daerah.

Pada masa kepemimpinan mereka, kebangunan rohani yang dahsyat terjadi. Kurt Koch mengatakan bahwa kegerakan Roh Kudus yang terjadi di TTS adalah kegerakan Roh Kudus yang tidak ada tandingannya dalam sejarah kebangunan rohani.

Kegerakan Kebangunan Rohani Besar
Jumlah umat Tuhan di TTS setelah Perang Dunia II melonjak pesat menjadi 80.000 jiwa. Hasil ini belum membuat Tuhan Yesus puas, karena Dia menghendaki supaya semuanya diselamatkan dan tak seorang pun yang binasa. Untuk melanjutkan karya keselamatan-Nya di TTS dengan melakukan kegerakan yang lebih besar lagi, Bapa di surga mengirimkan beberapa hamba-Nya untuk “mempersiapkan jalan” bagi-Nya. “Ada suara yang berseru-seru: "Persiapkanlah di padang gurun jalan untuk TUHAN, luruskanlah di padang belantara jalan raya bagi Allah kita! Setiap lembah harus ditutup, dan setiap gunung dan bukit diratakan; tanah yang berbukit-bukit harus menjadi tanah yang rata, dan tanah yang berlekuk-lekuk menjadi dataran…” (Yes 40:3-4). Hamba-hamba Tuhan yang diutus untuk mempersiapkan jalan bagiNya antara lain adalah Johanes Amos Ratuwalu, tim pelayanan dari YPPII Batu-Malang dan Mr. Chen.

Johanes Amos Ratuwalu, anak seorang pendeta yang bernama Joseph Ratuwalu. Tahun 1963 dari desa Sulamu, dipindahkan ke pulau Semau sebagai Kepala Sekolah Rakyat (saat itu J.A Ratuwalu berumur 32 tahun). Di daerah ini, Ratuwalu mengalami suatu pengalaman rohani yang membuat dirinya melayani Tuhan dan dikenal banyak orang. Suatu ketika dengan dorongan roh Kudus, dia berbicara kepada Tuhan, “Jika Tuhan ingin memakai saya, berikan tanda sebagai berikut, yaitu jikalah ada seorang buta yang meminta untuk didoakan, buatlah dia menjadi sembuh.” Dua tiga hari kemudian Tuhan jawab doanya. Kejadian ini mengubah pekerjaannya dari seorang guru menjadi pengajar Injil. Perjalanan pelayanan mereka selanjutnya selalu disertai dengan tanda-tanda berupa kesembuhan-kesembuhan ajaib yang terjadi. Pertama kali melayani di sekitar kota Kupang, selanjutnya hingga seluruh pelosok pulau Timor hingga ke seluruh NTT.

Pelayanan kesembuhan yang dilakukan telah berhasil menarik banyak orang untuk menghadiri kebaktian-kebaktian yang diadakan. Pernah suatu kali ketika dia melayani di pulau Alor di desa Apui, seorang yang mati dibangkitkan oleh Tuhan Yesus. Bapa di surga memakai gerakan kesembuhan itu untuk membawa banyak orang kepada pertobatan, tetapi akhirnya justru kesembuhan itu sendirilah yang lebih diutamakan dalam kotbah yang disampaikan oleh J.A Ratuwalu daripada pertobatan. Akhirnya “Gerakan Kesembuhan” J.A Ratuwalu harus berakhir karena wanita, uang dan kesombongan. Ratuwalu menceraikan istrinya dan menikah untuk kedua kalinya walaupun istri pertamanya masih hidup.

Kemudian didirikannyalah YPPII (Yayasan Persekutuan Pekabaran Injil Indonesia) oleh Petrus Oktavianus, dalam setiap kotbah yang disampaikan oleh mereka menitikberatkan pada pertobatan, kekudusan dan pekerjaan Roh Kudus. Tema ini menimbulkan banyak pertanyaan lain dalam diri setiap orang yang hadir, yaitu “Mengapa di dalam GMIT, Roh Kudus tidak bekerja?” Beberapa saat kemudian, pertanyaan tersebut mendapatkan jawabannya ketika terjadi kebangunan rohani yang besar di TTS, yang akhirnya tercatat sebagai salah satu Kegerakan Rohani yang terbesar di dalam sejarah. Tetapi sayangnya banyak orang yang tidak mau menerimanya dan tidak mau mengakuinya. Firman Tuhan yang disampaikan dengan urapan Roh Kudus tersebut seperti mata bajak besi yang sedang “bekarja” mengolah tanah, mengeluarkan batu, menghancurkan tanah yang keras dan menjadikan lahan tersebut siap untuk ditanami benih unggul… benih ilahi yang hidup. Firman Tuhan yang hidup itu “menusuk” sangat dalam, pada setiap jemaat yang hadir sehingga mata hati mereka menjadi terang lalu menyadari dosa-dosanya. Banyak orang yang kemudian menjadi pengikut Yesus. Juga banyak le'u-le'u yang diserahkan untuk dibakar dalam setiap pelayanan mereka. Le'u-le'u adalah sejenis jimat. Pelayanan yang diurapi Roh Kudus selalu disertai oleh tanda-tanda ajaib/ mukjizat. (Mat 16:17-18) Penyertaan Roh Kudus di dalam pelayanan hamba Tuhan sangat penting, sebab tanpa-Nya mereka tidak memiliki kuasa untuk menjadi saksi Tuhan Yesus. Pelayanan ini mengubah hati setiap orang yang mendengarkannya.

Kegerakan itu Sudah Dimulai (26 September 1965)
Sesuatu yang positif berasal dari Tuhan mulai terjadi di kota So'e, di mana beberapa orang yang mengaku mendengar “suara” dan mendapat “penglihatan”, lalu menceritakannya kepada pemimpin jemaat dan orang-orang yang berada di sekeliling mereka. Berikut ini beberapa kejadian yang menggemparkan yang terjadi menjelang kebangunan rohani besar itu.

Sekitar bulan Juni-Agustus 1965, Benyamin Manuain yang sedang berkotbah tentang seorang Samaria yang mengambil air di sumur Yakub, kemudian bertemu dengan Tuhan Yesus dan mereka bercakap-cakap (Yoh 4:1-42). Sementara kotbah berlangsung seorang wanita tertawa sambil memandang ke depan, dan ternyata dia melihat gambar di tembok persis seperti apa yang dikotbahkan, yakni seorang Samaria yang sedang mengambil air kemudian bercakap-cakap dengan Tuhan Yesus. Kejadian itu sangat aneh dan baru pertama kali terjadi. Sejak saat itu penduduk di sekitar daerah itu datang kepada pemimpin-pemimpin jemaat mereka mengaku bahwa mereka mendengar dan mendapat penglihatan, yang mana memerintahkan dan menghendaki mereka untuk menyerahkan le'u-le'u dan ikat pinggang yang mereka kenakan untuk diserahkan kepada pemimpin jemaat dan selanjutnya dibakar. Suara-suara yang mereka dengar itu mengetahui semua yang tersembunyi baik di dalam hati, perbuatan maupun pikiran mereka.

Puncak kegerakan itu terjadi pada saat kebaktian di gereja Maranatha pada tanggal 26 September 1965 yang dimulai sejak pukul 16.00 dan kemudian berakhir pada pukul 23.00 yang dipimpin oleh Pendeta Benyamin Manuain. Sore itu banyak sekali pemuda dan pemudi So'e yang hadir memenuhi ruang kebaktian. Mereka mendengarkan kesaksian seorang yang bernama Nahor Leo, dia menceritakan ketika dia tidur siang dan masih dalam keadaan terlelap, ia melihat ada seseorang yang mendatanginya. Orang itu menanyakan le'u-le'u yang disimpan oleh Nahor lalu memerintahkannya untuk dikeluarkan dan dibakar. Nahor menyangkalnya dengan mengatakan tidak ada, tapi terus didesak dan akhirnya ia mengeluarkan le'u-le'u tersebut yang disimpan di dalam sebuah peti. Kesaksian yang semula disampaikan dengan biasa-biasa saja oleh Nahor berkembang sesuai dengan pimpinan Roh Kudus menjadi suatu kebangunan rohani besar yang mengubah hidup banyak orang malam itu. Pernyataan nubuatan disampaikan dengan penuh urapan Roh Kudus. Akhirnya terjadilah suatu terobosan yang mencabut dan merubuhkan setiap kubu-kubu pertahanan di dalam pikiran manusia, kemudian menanam dan membangun di atas dasar yang baru, dasar yang kuat di mana alam maut tidak dapat menguasainya. Mereka telah mengakui dosanya dan dipulihkan oleh Tuhan. Di akhir kebaktian, Nahor mengundang mereka untuk menghadiri pertemuan yang akan diadakan keesokan harinya pada pukul 11.00 di tempat yang sama, karena Roh Kudus ada sesuatu yang ingin Tuhan sampaikan pada pertemuan kebaktian tanggal 27 September 1965. Pada keesokan harinya, diterima pernyataan bahwa semua orang harus hadir lagi pada tanggal 28 September, karena Tuhan akan menunjuk secara langsung orang-orang yang akan diutus untuk melayani ke tempat yang akan ditunjuk oleh Roh Kudus. Akhirnya terbentuklah “Tim Satu” kemudian Tim dua, Tim Tiga dan seterusnya hingga mencapai 75 tim, dengan anggota tim yang bervariasi antara 3 orang, 10 orang, hingga 20 orang. Semua yang tergabung dalam tim itu dipilih langsung oleh Roh Kudus.

Semua kejadian yang mereka alami selalu disampaikan pemimpin jemaat, tetapi sayang pemimpin jemaat pada saat itu tidak sempat mencatatnya, tetapi ada beberapa laporan yang masih sempat diingat.


Mujizat Yang Tuhan Lakukan
Ada beberapa laporan yang masuk, seperti:
1. Orang mati dibangkitkan.
Pada suatu kebaktian sedang dilakukan pengakuan iman rasuli dalam gereja yang sederhana, Nikodemus Nale tiba-tiba saja terjatuh dan langsung meninggal. Tetapi kejadian tersebut tidak diterima begitu saja oleh keluarganya. Menjelang pagi Nikodemus hidup kembali. Dalam kisah perjalanannya ke surga, dia melihat bahwa jalan-jalannya semua terbuat dari emas murni yang tembus pandang. Di “sana” tidak ada matahari dan bulan, tetapi terangnya melebihi benda-benda tersebut. Keadaan alamnya sangat indah dan tidak dapat dilukiskan. Setelah itu dia diperhadapkan pada seorang “Bapak” yang di atas kepala-Nya kelihatan seperti ada pelangi yang melingkarinya. “Bapak” tersebut ternyata membuka sebuah buku yang berisi tulisan mengenai dirinya dan ternyata berisi semua pelanggaran-pelanggaran yang pernah dilakukannya sejak kecil. Nikodemus mengakui semuanya termasuk mencampur perak dari bahan lain, karena ia adalah seorang pengrajin perak. “Bapak” tersebut mengatakan, “Engkau harus kembali untuk memberitahukan kepada anak-anakmu untuk hidup di dalam kasih sebab kasih itulah yang terutama, karena KASIH MENUTUPI BANYAK PELANGGARAN.” Keesokan paginya Nikodemus benar-benar “kembali” dan hidup. Lalu ia segera memanggil anak-anaknya dan menyampaikan pesan dari Tuhan untuk percaya kepadaNya dan hidup di dalam kasih. Kejadian itu mengubah tujuan hidupnya.
Seorang anak yang berumur dua tahun meninggal, dia adalah seorang anak dari Pendeta Liunome. Tujuan dari hal ini adalah agar istri pendeta itu bertobat dan menyerahkan hidupnya kepada Tuhan serta mengizinkan suaminya untuk pergi pelayanan bersama-sama dengan tim doa. Selesai menyampaikan pesan kepada istri pendeta ini Nona Kaci (anggota tim doa) menyampaikan pesan Tuhan “Emas dan perak tidak ada padaku, tetapi dalam nama Yesus orang Nazaret itu bangkitlah!!” Secara perlahan, anak itu mulai menggerakkan tangannya, membuka matanya, menggerakkan kakinya dan kemudian meminta minum. Melihat hal itu istri pendeta terharu dan menangis.
Sejak kejadian itu, setiap kali ada orang yang mati. Maka hal itu tidak begitu saja diterima oleh pihak keluarga, tetapi dilaporkan kepada tim doa untuk didoakan dengan harapan untuk dihidupkan lagi. Jika setelah didoakan masih belum juga hidup, barulah jenazah tersebut di kuburkan.

2. Air menjadi anggur
Suatu hari Tuhan menyuruh Yakoba dan beberapa orang temannya untuk menyiapkan periuk tanah sebagai tempat penyimpanan air dan kemudian ditutup dengan kain putih. Tuhan menyuruh mereka untuk berdoa tiga hari tiga malam. Tuhan menyuruh mereka untuk menyediakan 12 botol untuk diisi penuh dan dibagi-bagikan kepada orang-orang yang akan ditunjuk oleh Tuhan Yesus. Botol yang mereka isi dengan anggur tersebut tidak habis-habis. Setiap kali selesai perjamuan, botol anggur tersebut selalu terisi penuh kembali hingga berkelimpahan. Tahun 1968, air menjadi anggur itu terjadi kembali dengan cara yang sama.
Pada tanggal 24 juni 2000, Peristiwa air menjadi anggur kembali terjadi di kampung Aman. Dengan dipimpin oleh Ibu Liufeto, mereka bersama-sama mendoakan air supaya berubah menjadi anggur yang akan digunakan untuk perjamuan kudus. Memang saat itu anggur yang berada dan dijual di kota So'e adalah anggur yang memiliki kadar alkohol tinggi sehingga gereja tidak mempunyai pilihan lain selain dari membeli anggur tersebut untuk dipergunakan dalam Perjamuan Kudus. Tuhan menyatakan kemuliaanNya. Tuhan mengubah air menjadi anggur di So'e ialah selain untuk menyatakan kemuliaan-Nya, juga karena Tuhan tidak menginginkan umat-Nya di So'e menggunakan anggur yang mempunyai kadar alkohol tinggi dalam perjamuan Kudus di gereja dan ini adalah suatu dugaan yang masuk akal. Tuhan juga kemudian melakukan mujizat air menjadi anggur untuk yang ke 4-5 kalinya.

3. Panggilan melayani
Banyak sekali orang yang datang dan mengaku bahwa mereka diperintahkan Tuhan Yesus untuk pergi melayani bersama-sama dengan nama-nama yang didengarnya dari Tuhan. Lalu, terbentuklah sebuah tim doa dan mereka diberi nomor urut oleh Y.M.E Daniel.

4. Menyebrangi Sungai
Ketika dalam perjalanan pelayanan mereka harus melewati sebuah sungai yang sedang banjir, Tuhan Yesus memerintahkan untuk menyeberangi-nya saat itu juga. Saat mereka melakukannya banjir tersebut menjadi surut. Semakin mereka ke tengah, airnya semakin surut dan mereka akhirnya berhasil melewati sungai itu.

5. Tidak menjadi lapar
Ada kejadian aneh yang terjadi pada waktu tim doa melayani di kampung Babuin. Makanan yang didapat pada hari itu adalah jagung titi sebanyak dua liter yang dimakan oleh 58 orang, dan ajaibnya setelah dimakan dengan pengucapan syukur mereka tidak merasa lapar selama sehari penuh. Pernah suatu hari masih di kampung itu juga, mereka makan bersama pada siang hari dengan makanan yang ada cuma satu bokor kecil nasi untuk dimakan kira-kira 100 orang. Setelah dimakan dengan pengucapan syukur, masih ada sisa makanan dan semua orang yang hadir di tempat itu menjadi kenyang. Seperti mujizat yang Tuhan Yesus lakukan “Lima roti dan dua ikan.”

6. Berbicara dengan bahasa lain
Seorang bernama Mel Tari salah satu anggota tim doa. Ketika ia berada di Amerika, ia hadir dalam suatu pertemuan kebaktian di mana ia harus menceritakan tentang kasih Tuhan, orang yang akan menterjemahkan kesaksiannya ke dalam bahasa Inggris berhalangan hadir. Sementara sudah waktunya untuk ia berbicara. Tetapi hal itu tidak menjadi halangan bagi Tuhan untuk melakukan kehendakNya. Tuhan menyuruh-nya maju ke depan dan saat itulah Tuhan mulai mengatakan sesuatu dengan menyuruhnya untuk memulai dengan kata “ladies and gentleman” dan ia dengan lancar ia berbicara dengan menggunakan bahasa Inggris seperti orang yang telah terbiasa melakukannya hingga selesai. Orang-orang yang hadir dalam pertemuan itu mengatakan bahwa bahasa Mel Tari sangat baik.
Mel Tari menuliskan bahwa pada masa kegerakan Tuhan itu telah terjadi 200.000 orang telah bertobat dan dimenangkan bagi Kerajaan Allah. Jumlah yang menyerahkan hidupnya pada Tuhan Yesus saat kegerakan itu terjadi sangat banyak sehingga seluruh TTS (95%-an) memeluk Kristen, kecuali daerah Boti dan beberapa desa di Amanuban Timur.

Mengapa Tuhan Melakukannya?
Jika terjadi kegerakan kebangunan rohani di so'e maka ada alasan yang kuat mengapa Tuhan melakukannya?
1. Mereka harus diselamatakan sebelum Gerakan 30 September (G30S) terjadi. Sebagain di antara mereka mungkin akan menjadi seperti seorang penjahat yang disalibkan di sebelah kanan Tuhan Yesus yang diselamatkan pada detik-detik terakhir.
2. Saat itu masih banyak anggota masyarakat luas di seluruh TTS yang masih belum beragama. Setelah G30S gagal, maka mereka akan dicurigai sebagai anggota komunis oleh pemerintah. Untuk menghindari pencarian dan penangkapan oleh petugas, maka banyak yang memutuskan untuk menjadi anggota gereja, tetapi tanpa disertai dengan pertobatan. Jumlah mereka sangat banyak. Karena itu mereka perlu untuk “ditolong”, sehingga mereka dapat mengetahui bahwa “tempat pelarian” tersebut sebenarnya adalah tempat pelarian yang tepat, karena mereka akan bertemu dengan Tuhan Yesus yang adalah Juruselamat dunia.
3. Kondisi kesehatan masyarakat yang rentan terhadap berbagai macam penyakit, berhubung dengan kelaparan hebat yang sedang melanda mereka, sehingga mereka perlu disembuhkan. Jumlah mereka yang harus “diselamatkan” sangat banyak, dan tersebar luas di seluruh pelosok TTS. Karena itu, dibutuhkan banyak tim untuk pergi ke sana.

Pengaruh gerakan kebangunan rohani ini sangat terasa dengan banyaknya orang yang terlibat di dalamnya. Hampir semua kegiatan terhenti, maka So'e kelihatan juga seperti kota mati. Diadakah pencarian informasi yang dilakukan oleh petugas keamanan, tetapi mereka tidak melihat tidak ada hal-hal yang melanggar hukum yang telah terjadi. Mereka didapati berbicara tentang pertobatan, pengakuan dosa, dan penyesalan atas kejahatan-kejahatan yang telah dilakukan. Mereka juga membakar le'u-le'u, membuang minuman keras dan menghancurkan botol-botolnya sehingga menurut polisi, mereka tidak bisa ditangkap karena ternyata mereka juga telah membantu polisi, dan perbuatan mereka sangat positif dan tidak melanggar hukum. Di So'e yang terdengar hanyalah perbuatan-perbuatan Tuhan yang dahsyat dan ajaib.

Dewan gereja di Timor telah mengakui bahwa kebangunan Rohani yang terjadi di So'e ini adalah pekerjaan Roh Kudus, tetapi mereka belum bisa menerima keberadaan tim doa dan mereka kelihatan berhati-hati untuk menerima tim doa, sehingga harus “menunggu buah roh” dari pelayanan tim doa. Waktu untuk “menunggu buah roh “ dihasilkan cukup lama, yaitu hingga 36 tahun kemudian, yaitu pada tahun 2001 dimana keberadaan rim doa baru diterima di tingkat Sinode GMIT. Setelah 38 tahun kemudian, sejarah menceritakan bahwa kegerakan tersebut masih berlanjut hingga saat ini, sehingga tim doa melonjak menjadi 600 di seluruh NTT pada tahun 2002, dan menjadi 2000 tim doa pada tahun 2003.
Semua orang yang terlibat dalam kebangunan rohani di TTS adalah manusia biasa yang juga memiliki kelemahan. Tetapi, kelemahan tersebut tidak bisa dijadikan sebagai alasan untuk menolak keberadaan kebangunan rohani yang telah terjadi. Saat ini 30 tahun sudah lewat, tetapi kegerakan rohani itu masih tetap ada dan setiap tahunnya pada tanggal 26 September selalu diperingati sebagai hari kebangunan rohani.

Semakin serupa dengan Kristus. Amin.

Dikutip : "Jejak-jejak Kaki TUHAN"
Penulis : Jermia Manu
Penerbit : Metanoia Juli 2004




Sumber
http://wind-of-timor.blogspot.com/2007/10/jejak-jejak-kaki-tuhan.html

Melaksanakan Amanat Agung Kristus

Melaksanakan Amanat Agung Kristus

Oleh: Pdt. Samuel T. Gunawan, M.Th
Khotbah Ibadah Raya GBAP El Shaddai Palangka Raya
Minggu, 06 Januari 2013


“Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman” (Matius 28:19-20) 

PENDAHULUAN

Amanat Agung itu demikian pentingnya, bukan saja karena merupakan misi utama semua gereja, tetapi juga karena gereja-gereja baru akan terbentuk apabila ada orang-orang yang taat melaksanakan Amanat Agung tersebut. Tanpa Amanat Agung tidak akan ada gereja-gereja lokal. Pelaksanaan Amanat Agung menghasilkan gereja-gereja lokal. 

Gereja adalah wakil dari Kerajaan Allah di dunia ini dan diperintahkan untuk membawa berita Injil ke semua manusia di bumi. Jika kita melihat prioritas dari program-program, berbagai aktivitas sebuah gereja sekarang ini, kita mungkin bertanya-tanya apakah kita telah lupa atau bingung akan misi kita sebagai orang-orang percaya. Kita sibuk, tetapi sibuk mengerjakan apa? Berapa banyak program, pertemuan, dan aktivitas kita yang benar-benar menghasilkan jiwa-jiwa baru? Jika kita tergugah untuk memenuhi Amanat Agung Kristus, maka kita harus menjadi gereja yang misioner.

Sebuah gereja yang misioner adalah gereja yang melaksanakan misi. Kata “misi” atau “mission (Inggris)” berasal dari kata Latin “missio” yang diangkat dari kata “mittere”, merupakan terjemahan dari kata Yunani “apostello”, yang artinya “mengirim” atau “mengutus”. Secara umum kata misi bisa merujuk pada pengutusan seseorang dengan tujuan khusus, misalnya misi kesenian, misi budaya, dan lain-lain. Dalam konteks kekristenan, misi dipahami dalam arti pengiriman atau pengutusan gereja ke dalam dunia, khususnya melalui sekelompok pekerja yang disebut misionaris untuk menjangkau orang-orang kepada Kristus sebagai Tuhan dan Juru Selamat. Dalam perkembangannya, pengertian misi pada saat ini mencakup makna yang cukup luas, yaitu: (1) Pengiriman atau pengutusan misionari ke daerah tertentu; (2) Aktivitas yang dijalankan para misionari; (3) Wilayah geografis di mana para misonaris bekerja; (4) Lembaga yang mengutus para misionaris; (5) ladang misi atau lapangan misi yaitu dunia non Kristen; (6) Pusat pengutusan misionaris; dan (7) Rangkaian pelayanan yang secara khusus dimaksudkan untuk menyebarkan agama Kristen dan pendirin jemaat baru.

Istilah “mission” dan “missions” tidaklah sama. Para ahli misiologi membedakan kedua istilah tersebut. “Mission” merupakan suatu keseluruhan yang Allah tugaskan kepada gereja, baik itu bersifat pelayanan kepada Allah, anggota gereja, maupun orang yang belum percaya kepada Kristus. Sedangkan “missions” merupakan partisipasi gereja dalam tugas peberitaan Injil yang Allah percayakan pada gereja-Nya.

DASAR-DASAR KITAB SUCI 

Amanat Agung Tuhan Yesus Kristus adalah misi gereja. Memenuhi Amanat Agung adalah tujuan utama gereja. Amanat Agung Tuhan Yesus Kristus adalah misi kita yang merupakan kesinambungan dari misi Yesus Kristus. Dalam Matius 28:19,20 dan ayat-ayat pararlel lainnya, Yesus memberikan perintah kepada murid-muridnya. Inilah Amanat atau Perintah Agung bukan sekedar ayat agung, yang terus berlaku (kontinuitas) “Sampai akhir zaman (e?? t?? s??te?e?a? t?? a????? - heôs tês sunteleias tou aiônos) ”. Jadi gereja yang misioner adalah gereja yang mengemban Amanat Agung Tuhan Yesus Kristus dan menekankan pentingnya “menjadikan semua bangsa murid Kristus”. Perhatikan Amanat Kristus dalam ayat-ayat berikut ini:

1. Matius 28:18-20, “Yesus mendekati mereka dan berkata: "Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi. Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman."

2. Markus 16:15-20, “Lalu Ia berkata kepada mereka: "Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk. Siapa yang percaya dan dibaptis akan diselamatkan, tetapi siapa yang tidak percaya akan dihukum. Tanda-tanda ini akan menyertai orang-orang yang percaya: mereka akan mengusir setan-setan demi nama-Ku, mereka akan berbicara dalam bahasa-bahasa yang baru bagi mereka, mereka akan memegang ular, dan sekalipun mereka minum racun maut, mereka tidak akan mendapat celaka; mereka akan meletakkan tangannya atas orang sakit, dan orang itu akan sembuh." Sesudah Tuhan Yesus berbicara demikian kepada mereka, terangkatlah Ia ke sorga, lalu duduk di sebelah kanan Allah. 16:20 Mereka pun pergilah memberitakan Injil ke segala penjuru, dan Tuhan turut bekerja dan meneguhkan firman itu dengan tanda-tanda yang menyertainya”. 

3. Lukas 24:47-51, “dan lagi: dalam nama-Nya berita tentang pertobatan dan pengampunan dosa harus disampaikan kepada segala bangsa, mulai dari Yerusalem. Kamu adalah saksi dari semuanya ini. Dan Aku akan mengirim kepadamu apa yang dijanjikan Bapa-Ku. Tetapi kamu harus tinggal di dalam kota ini sampai kamu diperlengkapi dengan kekuasaan dari tempat tinggi." Lalu Yesus membawa mereka ke luar kota sampai dekat Betania. Di situ Ia mengangkat tangan-Nya dan memberkati mereka. Dan ketika Ia sedang memberkati mereka, Ia berpisah dari mereka dan terangkat ke sorga”. 

4. Kisah Para Rasul 1:4-9, “Pada suatu hari ketika Ia makan bersama-sama dengan mereka, Ia melarang mereka meninggalkan Yerusalem, dan menyuruh mereka tinggal di situ menantikan janji Bapa, yang -- demikian kata-Nya -- "telah kamu dengar dari pada-Ku. Sebab Yohanes membaptis dengan air, tetapi tidak lama lagi kamu akan dibaptis dengan Roh Kudus." Maka bertanyalah mereka yang berkumpul di situ: "Tuhan, maukah Engkau pada masa ini memulihkan kerajaan bagi Israel?" Jawab-Nya: "Engkau tidak perlu mengetahui masa dan waktu, yang ditetapkan Bapa sendiri menurut kuasa-Nya. Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi.” Sesudah Ia mengatakan demikian, terangkatlah Ia disaksikan oleh mereka, dan awan menutup-Nya dari pandangan mereka”. 

PRINSIP-PRINSIP DASAR PELAKASANAAN AMANAT AGUNG

Karena itu, ada tujuh hal yang perlu menjadi perhatian gereja dalam melaksanakan Amanat Agung Kristus berdasarkan empat bagian ayat-ayat Alktab diatas (Matius 28;18-20; Markus 16:15-20; Lukas 24:47-51; Kisah Para Rasul 1:6-11), yaitu:

1. Penginjilan Sebagai Ujung Tombak (Markus 16:15)
Penginjilan adalah ujung tombak pelaksanaan Amanat Agung, atau dengan kata lain, pemberitaan Injil merupakan tahap pertama dala pekerjaan misi. Penginjilan merupakan suatu proklamasi Injil Yesus Kristus yang berkuasa, dalam kuasa Roh Kudus dengan cara yang dapat dimengerti agar manusia bertobat kepada Tuhan Yesus Kristus. Karena itu, gereja harus meletakkan tugas menyampaikan Injil kepada semua orang di dunia dalam tempat yang pertama. Khotbah, pengajaran, doa, program, rencana, pelatihan dan lainnya, semuanya harus dipusatkan disekitar tujuan ini. Para pemimpin gereja seharusnya menjadi pemobilisir dari anggota tubuh Kristus, memberi inspirasi dan latihan bagi orang-orang percaya untuk bersaksi dan memenangkan jiwa-jiwa bagi Kristus. 

Tetapi, kesalahpahaman lain tentang Amanat Agung yang kadangkala muncul adalah konsep bahwa pekerjaan misi merupakan tugas khusus untuk murid-murid Tuhan Yesus (kaum rohaniwan seperti pendeta atau penginjil, dan bukan untuk jemaat awam). Beberapa bahkan berpendapat bahwa penginjilan merupakan karunia khusus yang tidak harus dilakukan oleh setiap orang percaya. Pandangan ini tentu saja tidak sesuai dengan esensi Amanat Agung. Amanat Agung ditujukan bagi “semua bangsa” dan disertai janji “sampai akhir zaman”. Kedua fakta ini tidak mungkin hanya dimaksudkan untuk 11 murid Tuhan saja. Karena itu, semua aktivitas gereja dikaitkan dengan mobilisasi anggota-anggota gereja untuk menjadi pemenang jiwa. Jika kita ingin memenuhi Amanat Agung Kristus, kita harus melakukannya menurut pola Perjanjian Baru. Dalam kitab Kisah Para Rasul kita menemukan pola Perjanjian Baru yaitu : setiap orang, di mana saja, setiap ada kesempatan, setiap hari menyampaikan kesaksian dan memenangkan jiwa. Jadi penginjilan menjadi bagian alami dari kehidupan setiap hari. Dengan demikian gereja lokal : pemimpin-pemimpin dan para anggotanya harus dimobilisir untuk tugas ini.

2. Injil adalah Kabar Baik untuk Semua Bangsa (Matius 28:19: Markus 16:15)
Injil adalah kabar baik untuk semua orang. Kata “Injil” merupakan Arabisasi untuk kata Yunani "e?a??e???? - euaggelion" yang artinya adalah kabar baik (good news). Kekristenan menggunakan kata “eunggelion” dengan arti “berita sukacita atau kabar baik dari Allah tentang Yesus Kristus dan karya penebusanNya bagi dunia” (Roma 1:16; 1 Korintus:15:1-4). 

Dosa itu bersifat universal karena itu Injil yang adalh kabar baik bersifat universal. Tidak ada seorangpun manusia yang pernah hidup di bumi ini bebas dari dosa. Dosa telah menyebabkan manusia mengalami kerusakan total (total depravity) dan ketidakmampuan total ((total inability). Kerusakan total berarti: (1) dosa telah menjangkau setiap aspek natur dan kemampuan manusia: termasuk rasio, hati nurani, kehendak, hati, emosinya dan keberadaannya secara menyeluruh (2 Korintus 4:4, 1Timotius 4:2; Roma 1:28; Efesus 4:18; Titus 1:15); dan (2) secara natur, tidak ada sesuatu dalam diri manusia yang membuatnya layak untuk berhadapan dengan Allah yang benar (Roma 3:10-12). Sedangkan ketidakmampuan total berarti: (1) Orang yang belum lahir baru tidak mampu melakukan, mengatakan, atau memikirkan hal yang sungguh-sungguh diperkenan Allah, yang sungguh-sungguh menggenapi hukum Allah; (2) tanpa karya khusus dari Roh Kudus, orang yang belum lahir baru tidak mampu mengubah arah hidupnya yang mendasar, dari dosa mengasihi diri sendiri menjadi kasih kepada Allah. Perlu ditegaskan bahwa ketidakmampuan total bukanlah berarti orang yang belum lahir baru sesuai naturnya tidak mampu melakukan apa yang baik dalam pengertian apapun. Ini berarti, orang yang belum lahir baru masih mampu melakukan bentuk-bentuk kebaikan dan kebajikan tertentu. Tetapi perbuatan baik ini tidak digerakan oleh kasih kepada Allah dan tidak pula dilakukan dengan ketaatan yang sukarela pada kehendak Allah. 

Karena itulah, jangkauan penebusan kalau dilihat dari sifatnya mulai dari perorangan, satu bangsa, seluruh dunia, bahkan alam semesta. Keselamatan adalah untuk dunia ini dengan demikian keselamatan itu bersifat universal (Yohanaes 3:16; 1 Yohanes 2:2) atau dengan kata lain, jangkauan penebusan bersifat tidak terbatas (unlimited atonement). Karena itu, perintah untuk memberitakan Injil dalam amanat Kristus adalah “pergi ke seluruh dunia” dan “menjadi semua bangsa muridNya”. Ajaran tentang penebusan tak terbatas (unlimited atonemant) memberikan kepada para pemberita Injil jaminan dan kebebasan dalam menyampaikan berita, sehingga ia dapat dengan tulus percaya bahwa ia memiliki berita yang dirancang dan tepat menjawab kebutuhan manusia yang datang mendengarkan perkataannya. (Matius 28:19; Markus 16:15-16). 

Tuhan telah menyediakan keselamatan untuk semua orang dan Roh Kudus meyakinkan manusia agar menerima keselamatan. Walaupun demikian, Alkitab juga mengajarkan bahwa tidak semua orang akan diselamatkan. Hal ini merupakan misteri Allah dalam pemilihan, dan terjadi karena penolakan dan ketidakpercayaan kepada Kristus (Yohanes 5:10; 2 Korintus 5:18-20; Titus 2:11). Charles C. Ryrie menjelasan menjelaskan antara hubungan pemilihan dengan percaya sebagai berikut. “memang, pemilihan tentu saja menegaskan bahwa orang-orang yang dipilih akan diselamatkan, tetapi pemilihan itu sendiri tidak menyelamatkan mereka. Orang diselamatkan karena anugerah oleh iman pada kematian pengganti yang dialami Kristus. Dan tentu saja, mereka harus belajar tentang kematian Kristus untuk mengisi iman mereka. Dengan demikian, pemilihan kematian Kristus, kesaksian tentang kematianNa, dan iman orang itu sendiri, semuanya perlu agar orang itu dapat diselamatkan”. Jelaslah bahwa keputusan untuk menerima atau menolak Kristus adalah tanggung jawab manusia. Menolak Kristus berarti tidak diselamatkan. Jadi apabila seseorang tidak menerima keselamatan, dalam hal ini Allah tidak dapat dipersalahkan. Persediaan keselamatan cukup untuk semua manusia.

3. Tanda Awal yang Kelihatan dari Penerimaan Injil dan Pertobatan adalah Baptisan Air dalam Nama Allah Tritunggal (Matius 28:19)
Baptisan air oleh sebagian orang telah dianggap sebagai anugerah yang menyelamatkan atau syarat keselamatan. Alkitab tidak mengajarkan demikian, sebaliknya Alkitab menunjukkan bahwa baptisan air bukanlah anugerah yang menyelamatkan atau pun syarat keselamatan (1 Korintus 1:17). Baptisan air itu penting tetapi bukanlah syarat keselamatan. Makna Baptisan air adalah: (1) Baptisan air adalah tanda (kepada) pertobatan (Matius 3:11); (2) Tanda ketataan kepada perintah Tuhan, bahwa seseorang telah lahir baru atau telah diselamatkan (Matius 28:18,19); (3) orang percaya yang telah lahir baru (atau dibaptis Roh Kudus), telah bersatu dengan Kristus dalam kematian dan kebangkitanNya, dan secara simbolik persatuan tersebut ditunjukkan melalui peristiwa baptisan air (Roma 6). (4) Baptisan air merupakan upacara (inisiasi) masuk kedalam keanggotaan tubuh Kristus yang kelihatan, disebut keanggotaan gereja lokal. (5) Baptisan air adalah kesaksian bahwa orang tersebut telah dimeteraikan dan menerima hidup baru dan mengambil bagian dalam kematian dan kebangkitan Kristus (Roma 6:3-6). (6) Baptisan juga menandakan bahwa seseorang menjadi pengikut atau murid Kristus yang sah (Matius 28:19,20). 

Baptisan air dilakukan melibatkan keputusan dan pilihan manusia. Karena itu, berdasarkan pengertian ini, maka baptisan air dilakukan setelah lahir baru (diselamatkan) yaitu setelah percaya dan bertobat (Markus 16:15; Kisah Para Rasul 2:4,33,37-41). Untuk dibaptis air seseorang harus menerima Injil (Matius 28:19), bertobat (Kisah Para Rasul 2:38), dan memiliki iman (Kisah Para Rasul 2:41; 8:12; 18:12; Galatia 3:26,27);

Jadi, dasar atau fondasi dari legal (sah) atau tidaknya suatu baptisan air adalah kedua hal berikut ini, dan jika kedua syarat ini telah dipenuhi, maka tidak perlu ada pengulangan baptisan, yaitu: (1) Yang akan menerima baptisan air itu adalah orang yang sudah percaya Yesus Kristus sebagai Tuhan dan penebus, yaitu mereka yang sudah dilahirbarukan oleh Roh Kudus, dan masuk dalam “kovenan” anugerah. (2) Baptisan air, harus dilakukan dalam nama Allah Bapa, Anak, dan Roh Kudus, yang menjadikan upacara itu kudus. 

Menarik untuk memperhatikan secara khusus, frase Yunani yang tertulis di Matius 28:19 yaitu “ßapt????te? a?t??? e?? t? ???µa t?? pat??? ?a? t?? ???? ?a? t?? a???? p?e?µat?? - baptizontes autous eis to onoma tou patros kai tou uiou kai tou agiou pneumatos” yang diterjemahkan menjadi “baptislah mereka dalam nama Bapa, dan Anak, dan Roh Kudus”, di mana dalam frase itu disebutkan tiga buah nama yaitu Bapa, Anak, dan Roh Kudus, tetapi kata kata Yunani “eis to onomo” yang diterjemahkan “dalam nama” adalah nominatif singular (bentuk tunggal, bukan bentuk jamak)! Kata “nama” dalam Alkitab bahasa Yunani ditulis dengan “???µa - onoma” (bentuk tunggal), bukan dengan “???µata – onomata” (bentuk jamak). Demikian juga dalam Alkitab bahasa Inggrisnya, diterjemahkan name (bentuk tunggal), bukan names (bentuk jamak). Karena itu ayat ini mengajarkan tentang Trinitas, di mana bukan hanya menunjukkan bahwa ketiga Pribadi itu setara, tetapi juga menunjukkan bahwa ketiga Pribadi itu adalah satu atau esa. Keesaan Allah ini jelas dinyatakan dalam Alkitab terutama dalam Ulangan 6:4. Disini, kata Ibrani “esa” adalah adalah “Ekhad” yang menunjuk kepada “satu kesatuan yang mengandung makna kejamakan; dan bukan satu yang mutlak”. Jika yang dimaksud “satu-satunya; atau satu yang mutlak” maka dalam bahasa Ibrani yang digunakan adalah “yakhid”. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa Amanat Agung adalah misi Allah yang Esa, yaitu Allah Tritunitas karena misi ini melibatkan ketiga Pribadi dari Allah Trinitas. 

4. Fokus pada pemuridan: Sasaran Amanat Agung adalah menjadikan murid-murid Kristus (Matius 28:19-20)
Banyak yang memahami inti Amanat Agung terletak hanya pada penginjilan (Matius 28:19-20). Pemahaman tersebut didasarkan pada penekanan kata “pergilah” yang diletakkan di awal kalimat yang diikuti langkah selanjutnya yaitu pemuridan, baptisan dan pengajaran. Tetapi jika diperhatikan menurut struktur tata bahasa Yunani ayat 19-20, maka inti Amanat Agung justru terletak pada pemuridan. Hal hal ini didasarkan pada kata imperatif untuk kata kerja “jadikanlah murid” yang diikuti oleh tiga partisipel (anak kalimat), yaitu “pergilah”, “bapiskanlah” dan “ajarkanlah”. 

Penjelasan lebih lanjut, mari kita memperhatikan bahwa dalam bahasa Yunani ayat tersebut menyebutkan empat kata kerja, yaitu : “pergilah (p??e??e?te? poreuthentes), jadikanlah murid (µa??te?sate mathêteusate), baptiskanlah (ßapt????te? baptizontes), dan ajarkanlah (d?das???te? didaskontes)”. Kata “pergilah, baptiskanlah, ajarkanlah” adalah kata kerja partisip atau bentuk kata kerja bantu. Kata “jadikanlah semua bangsa muridKu {µa??te?sate pa?ta ta e???; mathêteusate panta ta ethnê; jadikanlah murid(-Ku) semua bangsa-bangsa}” adalah kata kerja imperatif atau kata kerja bentuk perintah. Jadi fokus Amanat Agung adalah “menjadikan semua orang/bangsa murid Kristus. kata Yunani untuk murid adalah Mathetes yang menunjuk kepada para pengikut Yesus atau orang-orang percaya kepada Kristus, yaitu orang-orang yang mengaku bahwa Yesus adalah Kristus dan Tuhan. Kata murid dalam Alkitab Perjanjian Baru tercatat 269 kali, sedangkan kata Kristen dicatat hanya 3 kali, dan kata orang percaya hanya 2 kali. Fakta ini memberitahukan kita bahwa betapa pentingnya panggilan Tuhan Yesus bagi orang yang sudah percaya kepadaNya, supaya menjadi murid-Nya yang sejati. Dengan demikian tugas pengabaran Injil tidak boleh lepas dari tugas pemuridan. Perhatikan skema berikut :

PROSES SKEMATIK PELAKSANAAN AMANAT AGUNG
 --------------------------------------------------- MISI -------------------------------------------------
    
Gambar skematik di atas didasarkan pada Amanat Agung Kristus dalam Matius 28:19-20. Di dalamnya terdapat siklus empat langkah untuk menjangkau dunia bagi Kristus, yaitu: (1) Dunia hanya dapat dijangkau jika orang percaya (gereja) pergi memberitakan Injil dan bersaksi; (2) Orang-orang yang telah mengambil keputusan (komitmen) untuk mengikut Kristus harus menyatakan pengakuan imannya dimuka umum melalui baptisan air. Baptisan adalah kesaksian awal yang dapat dilihat dari luar tentang pengalaman seseorang dengan Kristus; (3) Orang-orang yang baru menjadi pengikut Kristus harus diajarkan perintah-perintah (doktrin) Tuhan kita dan dibimbing untuk melakukan (praktek) perintah-perintah itu dalam ketaatan, sukacita dan kasih kepada Kristus; (4) Menjadikan orang-orang murid Kristus melalui ketiga langkah sebelumnya. Dan setelah menjadi murid, orang-orang percaya tersebut diperintahkan untuk “pergi dan menjadikan semua bangsa murid Kristus”. Jadi, siklus ini kembali ke titik awal dan jika dilaksanakan akan menghasilkan lingkaran kesaksian yang terus menerus semakin besar “sampai akhir zaman”.

5. Metode Pemuridan adalah Pengajaran (Doktrinal) dan Tindakan Melakukan (Praktikal)
Rasul Paulus menasihati Titus demikian “Tetapi engkau, beritakanlah apa yang sesuai dengan ajaran yang sehat” (Titus 2:1). Selanjutnya Rasul Paulus menghubungkannya ajarah sehat dengan praktek kehidupan sehari-hari (Titus 2:1-14). Ajaran sehat adalah doktrin atau didaskalia. Kata ini berkaitan dengan apa yang diajarkan. Ajaran sehat akan memelihara orang percaya agar tetap sehat dan terhindar dari kekeliruan. Doktrin yang sehat menghasilkan pertumbuhan dan paktek kehidupan kudus dan berkenan kepada Allah. 

Kata doktrin berarti sesuatu yang diajarkan, pengajaran, instruksi; prinsip-prinsip agama yang diajarkan; atau lebih harfiah doktrin berarti mengajarkan yang dasar. Kata Yunani “doktrin” adalah “d?das?a??a (didaskalia); d?da?? (didakhê)” dari akar kata “d?das?? (didaskô)” yang berarti "mengajar". Sehingga "doktrin" secara konseptual adalah hal-hal yang diajarkan. Kata doktrin ini digunakan sebanyak 56 kali di dalam Authorised Version (Alkitab bahasa Inggris). Salah satunya terdapat di dalam Kisah Para Rasul 2:42, di mana dikatakan bahwa para petobat gereja yang mula-mula bertekun dalam pengajaran (doktrin) para rasul. Dari tersebut, maka doktrin dapat didefinisikan sebagai pengajaran-pengajaran dasar yang diajarkan. Dalam pengertian yang luas doktrin mencakup semua kebenaran firman Tuhan yang diajarkan. Doktin itu sendiri bersumber dari Alkitab yang adalah Firman Allah. Sehingga untuk pemakaian Kristen, doktrin dapat di definisikan sebagai pengajaran-pengajaran dasar Kristen yang diajarkan yang bersumber dari Alkitab. 

Jadi, orang-orang yang baru menjadi pengikut Kristus harus diajarkan perintah-perintah (doktrin) Tuhan kita dan dibimbing untuk melakukan (praktek) perintah-perintah itu dalam ketaatan, sukacita dan kasih kepada Kristus. Kristus memerintahkan para muridNya “ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu” (Matius 20:20); dan dalam Yohanes 13:17 Yesus berkata “Jikalau kamu tahu semua ini (doktrin), maka berbahagialah kamu, jika kamu melakukannya (praktek)”.

Saat ini, ada serangan yang hebat terhadap doktrin yang sehat. Ada upayan pembelotan terhadap masalah-masalah doktrin dan ajakan berpaling pada filsafat-filsafat manusia dan ajaran-ajaran setan. Banyak gereja tidak memiliki waktu mengkhotbahkan atau mengajarkan doktrin. Mereka telah berpaling kepada pidato, politik, etika, khotbah dari buku atau injil sosial yang mengatakan bahwa doktrin tidak berguna lagi dan ketinggalan zaman. Rasul Paulus Menubuatkan “Karena akan datang waktunya, orang tidak dapat lagi menerima ajaran sehat, tetapi mereka akan mengumpulkan guru-guru menurut kehendaknya untuk memuaskan keinginan telinganya” (2 Timotius 4:3). 

Mengingat bahwa pada akhir zaman kapasitas doktrin-doktrin iblis yang menyesatkan dan menghancurkan kehidupan manusia akan semakin meningkat, maka kita perlu mengetahui doktrin yang benar. Doktrin iblis bisa berupa: berupa filsafat, tahyul dan tradisi-tradisi manusia (Matius 22:9; 24:3-13; Galatia 1:6-9). Untuk mengenal doktrin-doktrin yang palsu kita tidak harus mempelajari doktrin palsu tersebut. Hal yang terpenting adalah mengenal dan memahami doktrin yang benar. Dengan mengetahui yang benar kita dapat membedakannya dari yang palsu. 

Berikut ini adalah ciri-ciri dari doktrin yang benar, yaitu; (1) Doktrin yang Benar Harus Sehat dan menghasilkan karakter yang kudus (1 Timotius 1:10; 2 Timotius 4:2-4; Titus 1:9; 2:1). Doktrin yang benar adalah doktrin yang sehat. Doktrin yang sehat akan memelihara orang percaya agar tetap sehat dan terhindar dari kekeliruan. Doktrin yang sehat menghasilkan pertumbuhan dan perkembangan rohani yang sehat bagi orang percaya. Doktrin sehat menghasilkan paktek kehidupan yang kudus dan berkenan kepada Allah. Merupakan fakta yang terbukti bahwa doktrin mempengaruhi karakter. Apa yang dipercayai seseorang sangat besar mempengaruhi perbuatannya. Jika seseorang menerima dan mengikuti doktrin yang sehat maka doktrin itu akan menghasilkan karakter ilahi dan karakter Kristus. Paulus memberikan nasihat kepada Timotius agar “awasilah dirimu sendiri dan awasilah ajaranmu” (1 Timotius 4:6,13,16). Selanjutnya Paulus berbicara tentang “ajaran yang sesuai dengan ibadah kita” (1 Timotius 6:1-3), yakni serupa dengan Allah; karakter dan kehidupan yang kudus. (2) Doktrin yang Benar Harus Alkitabiah (2 Timotius 3:14-17). Doktrin yang alkitabiah adalah doktrin yangbersumber pada seluruh Firman Allah. Doktrin seperti ini tidak hanya bermanfaat untuk pengajaran tetapi juga untuk menyatakan kesalahan, mendidik dan memperbaiki agar orang percaya memiliki hidup yang berkenan kepada Allah. Untuk menghasilkan doktrin yang alkitabiah diperlukan interpretasi yang tepat berdasarkan prinsip-prinsip hermeneutika yang wajar, sederhana, benar dan dapat dipertanggunjawabkan sehingga menghasilkan doktrin yang sehat.
 
6. Dilengkapi dengan Kuasa Roh Kudus (Kisah Para Rasul 1:5-8) 
Pentakosta menandai dimulainya gereja sebagai suatu tubuh yang berfungsi melalui pencurahan Roh Kudus. Sebelum naik ke surga, Kristus berjanji tidak lama lagi murid-muridNya akan dibaptis dengan Roh Kudus (Kisah Para Rasul 1:5). Peristiwa “pencurahan Roh Kudus” pada hari Pentakosta tersebut indentik dengan “baptisan Roh Kudus” yang dijanjikan oleh Kristus kepada murid-muridNya. Petrus menyebutnya sebagai penggenapan nubuat Nabi Yoel (Kisah Para Rasul 2:16). Peristiwa pentakosta ini menandai ditempatkannya orang percaya di dalam Tubuh Kristus (1 Korintus 12:13; Efesus 1:22,23). 

Baptisan Roh Kudus pada hari Pentakosta yang terjadi hanya satu kali dan tidak terulang lagi. Untuk memahami arti baptisan Roh Kudus, kita dapat memperhatikan kata-kata Paulus dalam 1 Korintus 12:13, “Sebab dalam satu Roh kita semua, baik orang Yahudi, maupun orang Yunani, baik budak, maupun orang merdeka, telah dibaptis menjadi satu tubuh dan kita semua diberi minum dari satu Roh”. Kalimat dalam 1 Korintus 12:13 ini menggunakan bentuk aorist tense (past principle tense), yaitu menunjuk kepada suatu peristiwa yang sudah lewat, yang terjadi hanya satu kali dan tidak akan pernah terulang lagi. Ini berarti bahwa baptisan Roh Kudus itu hanya terjadi satu kali, yaitu pada hari Pentakosta di Yerusalem. Setiap orang percaya secara status telah dibaptiskan ke dalam tubuh Kristus bersama-sama dengan orang-orang pilihan atau yang telah bertobat dan percaya kepada Kristus di segala zaman, sejak hari Pentakosta itu. Roh Kudus telah mempersatukan orang percaya kepada kematian dan kebangkitan Kristus. Tetapi secara pribadi, baptisan Roh Kudus itu kita terima pada saat kita percaya kepada Kritus dan menerima Roh Kudus, pada saat regenerasi (kelahiran baru). 

Baptisan Roh Kudus memperlengkapi orang percaya dengan karunia-karuniaNya dan kuasa sehingga dapat bersaksi dan melayani Tuhan (Roma 12:3-9; 1 Korintus 12:4-31). Kata Yunani untuk “karunia-karunia” adalah “charismata” bentuk tunggalnya “charis”. Karunia-karunia yang diberikan oleh Roh kudus kepada setiap orang percaya berbeda satu sama lain tetapi sama pentingnya. Tujuan dari karunia-karunia Roh adalah memampukan orang-orang percaya untuk melakukan berbagai bentuk pelayanan guna pembangunan tubuh Kristus. Dengan demikian tidak satupun dari orang percaya yang tidak diberi karunia Roh. Berdasarkan pengertian ini dapat dikatakan bahwa “seluruh gereja Yesus Kristus adalah karismatik”. Tanpa pertolongan Roh Kudus, kita tidak mungkin memiliki kuasa untuk bersaksi dan melayani. Itulah sebabnya sebelum murid-murid-Nya pergi untuk bersaksi dan melayani, mereka diperintahkan untuk menunggu di Yerusalem, sampai mereka menerima baptisan Roh Kudus dan diperlengkapi dengan kuasa Roh Kudus (Lukas 24:47-49; Kisah Para Rasul 1:4-5,8). 

Penginjilan dalam Perjanjian Baru bukanlah sebuah aktivitas yang lemah, tumpul atau netral. Penginjilan adalah pertemuan (konfrontasi) antara kuasa Roh Kudus dan kekuatan roh jahat. Roh kudus dengan semua buah, karunia, dan kuasaNya harus menjadi nyata dalam hidup kita. Firman harus diberitakan dan diajarkan dengan kuasa yang nyata. Injil harus diberitakan bukan untuk disembunyikan. Roh Kudus memberi kita kuasa untuk menjadi saksi Kristus yang efektif. Paulus mengakui bahwa ia mengadakan tanda-tanda mujizat yang berhubungan dengan pemberitaan Injil seperti yang ditertulis dalam Roma 15:18-19 “Sebab aku tidak akan berani berkata-kata tentang sesuatu yang lain, kecuali tentang apa yang telah dikerjakan Kristus olehku, yaitu untuk memimpin bangsa-bangsa lain kepada ketaatan, oleh perkataan dan perbuatan, oleh kuasa tanda-tanda dan mujizat-mujizat dan oleh kuasa Roh. Demikianlah dalam perjalanan keliling dari Yerusalem sampai ke Ilirikum aku telah memberitakan sepenuhnya Injil Kristus”.

7. Mencakup pekabaran Injil dan pelayanan sosial
Ada tiga pandangan umum tentang misi. Pandangan tradisional, melihat misi identik (dan terbatas pada) penginjilan. Pandangan liberal, melihat misi sebagai pelayanan sosial dan menganggap memberitakan Injil tidak lebih penting daripada pelayanan sosial. Pangangan Injili, yang dipelopori oleh John Stott. Ia berpendapat bahwa misi Alkitabiah mencakup penginjilan dan pelayanan, tetapi penginjilan tetap menjadi inti misi. Murid-murid diutus untuk melakukan misi sama seperti yang telah dilakukan Yesus, sedangkan dalam pelayanan Yesus, Ia tidak hanya memberitakan Injil tetapi juga memperhatikan masalah sosial (Lukas 4:18-19).

Allah, dalam Perjanjian Lama dengan berbagai cara telah mengungkapkan perhatian besar terhadap orang miskin, yang kekurangan, dan tertindas (Mazmur 14:6; Yesaya 25:4). Secara khusus dalam Perjanjian Baru, sebagian besar pelayanan Yesus adalah kepada orang-orang miskin, yang kekurangan, dan menderita. (Matius 8:2-4; Lukas 7:11-15; 17:11-19). Yesus sebagai Kepala Gereja memberikan teladan saat Ia melayani di muka bumi ini (Lukas 4:18-19). Yesus memberitakan tahun rahmat Tuhan telah datang, dinyatakan dengan Firman. Yesus melakukan pembebasan kepada orang-orang tawanan dan penglihatan bagi orang-orang buta, dinyatakan dengan mujizat/tanda-tanda heran. Yesus membebaskan orang-orang tertindas, dinyatakan dengan perbuatan. Jemaat mula-mula juga menunjukkan kepedulian yang mendalam kepada mereka yang memerlukan bantuan, karena diangkatlah para diakon agar pekerjaan memperhatikan orang-orang yang membutuhkan tidak terabaikan (Kisah Para Rasul 6:1-7). Rasul Paulus juga sangat memperhatikan pelayanan sosial kepada yang membutuhkan, seperti yang kita lihat dalam Kisah Para Rasul 11:28-30, dan hal ini sungguh-sungguh diupayakannya untuk dilakukan (Galatia 2:10). 

Karena itu, untuk melaksanakan misi sepenuhnya dari Amanat Kristus, maka Gereja harus berubah dari paradigma lama kepada paradigma yang baru. Mengapa? Karena Gereja dengan pola pikir lama memisahkan antara gereja dan dunia atau kehidupan di dunia sekuler. Yang sakral (gereja) dan yang sekuler (dunia) dipisahkan. Atau paling jauh gereja mempengaruhi ”dunia sekuler” dalam beberapa bidang pelayanan, contohnya membuka kebaktian atau pelayanan untuk kaum pengusaha dan profesional. Sedangkan Gereja dengan pola pikir baru adalah sebuah gereja yang mewarnai bumi dan memberikan pengaruh kuat. Allah memberikan sebuah tujuan kepada gerejaNya yaitu menghadirkan kerajaan Allah dalam setiap aspek kehidupan di dunia.

Jadi, Gereja dengan pola pikir yang baru perlu mendemontrasikan kerajaan Allah di muka bumi ini. Gereja dipanggil untuk mengabarkan Injil keselamatan dan memenangkan jiwa bagi kerajaan Allah yang disertai dengan kuasa, mujizat dan tanda-tanda heran (Markus 16:15-18). Tetapi gereja juga mendapat tugas untuk menolong mereka yang miskin, menegakkan keadilan bagi mereka yang tertindas, memberdayakan manusia yang secitra dan segambar dengan Allah. Tujuan gereja adalah menghadirkan kerajaan Allah di bumi ini. Menghadirkan kerajaan Allah dalam setiap aspek kehidupan kita (termasuk dalam bidang pelayan sosial) merupakan proses mutlak agar mencapai misi Tuhan kita. Tuhan menginginkan setiap orang percaya bergabung ke dalam misi-Nya, “menjadikan semua bangsa muridNya”.

DAFTAR BUKU REFERENSI DALAM BAHASA INDONESIA

Charles C. Ryrie., 1991. Teology Dasar. Jilid 1 & 2, Terjemahan, Penerbit Andi Offset : Yoyakarta. 
Colin Shaw., 2007. A House For His Glory. Terj, Diterbitkan oleh TCC and Translinc: Jakarta.
C. Peter Wagner., 1993. Strategi Perkembangan Gereja. Terj, Penerbit Gandum Mas: Malang.
D.W. Ellis,. 1999. Metode Penginjilan. Diterbitkan Yayasan Komunikasi Bina Kasih: Jakarta.
Darrel W. Robinson., 2004. Total Church Life. Terj, diterbitkan oleh Lembaga Literatur Baptis: Bandung.
Dick Iverson., 1994. Kebenaran Masa Kini, diktat. Harvest International Theological Seminary/Harvest Publication House: Jakarta. 
-----------------., 1993. Penginjilan, diktat. Harvest International Theological Seminary/Harvest Publication House: Jakarta. 
Echhard J. Scahnabal., 2010. Rasul Paulus Sang Misionaris: Perjalanan, Stategi dan Metode Misi Rasul Paulus. Terj, Penerbit ANDI: Yogyakarta.
George W. Peters., 2006. A Biblical Theology Of Missions. Terj, Penerbit Gandum Mas: Malang.
Hasan Susanto., 2003.Perjanjian Baru Interlinier Yunani-Indonesia dan Konkordansi Perjanjian Baru, jilid 1 dan 2. Terjemahan, Penerbit Literatur SAAT : Malang. 
Harianto GP., 2012. Pengantar Misiologi: Misiologi Sebagai Jalan Menuju Pertumbuhan. Penerbit ANDI: Yogyakarta.
Henry C. Thiessen., 1992. Teologi Sistematika, direvisi Vernon D. Doerksen. Terjemahan, Penerbit Gandum Mas : Malang
Jimmy B. Oentoro., 2004. Gereja Impian: Membangun Gereja Di Lanskap Yang Baru. Diterbitkan oleh PT. Harvest Citra Sejahtera: Jakarta. 
M. David Sills., 2011. Panggilan Misi: Menemukan Tempat Anda Dalam Rancangan Allah Bagi Dunia Ini. Terj, Penerbit Momentum: Jakarta.
Norman & Davin Geisler., 2010. Conversational Evangelism.Terj, Penerbit Yayasan Gloria: Yogyakarta.
Millard J. Erickson ., 2003. Teologi Kristen. Jilid 1,2 & 3. Terjemahan, Penerbit Gandum Mas : Malang. 
Peter Wongso,. 1981. Tugas Gereja dan Missi Masa Kini. Penerbit Seminari Alkitab Asia Tenggara: Malang.
Rick Warren., 2004. Kehidupan Yang Digerakkan oleh Tujuan. Terj, Penerbit Gandum Mas: Malang.
Sularso Supater, dkk., 1994. Sebuah Bunga Rampai Pertumbuhan Gereja. Penerbit ANDI: Yogyakarta. 
Widi Artanto., 1997. Menjadi Gereja Misioner. Penerbit Kanasius: Yokyakarta & BPK Gunung Mulia: Jakarta.

Sumber:
http://artikel.sabda.org/melaksanakan_amanat_agung_kristus

Penginjil Muda Memenangkan Cina

Penginjil Muda Memenangkan Cina

Anak-anak dan para remaja juga dipakai Allah untuk memberitakan injil. Kesaksian berikut ini adalah salah satu gerakan penginjilan yang sedang dipakai Allah di Cina. Para penginjil muda berjalan kaki dari satu desa ke desa lainnya. Selangkah lebih maju dari para petugas keamanan yang dengan putus asa berusaha menekan pertumbuhan gereja bawah tanah yang terus tumbuh menjamur di Cina. 

Detail dari gerakan ini diperoleh ketika seorang penginjil dari organisasi "American Healing", melakukan perjalanan ke Cina untuk melihat keadaan di sana. Ketika sedang mengadakan pertemuan rahasia dengan para pemimpin dari salah satu gerakan gereja bawah tanah terbesar, dia mendengar kesaksian dari dua gadis remaja yang merupakan ciri tipikal dari para penginjil muda di Cina. 

Dua gadis remaja yang berumur 18 dan 16 tahun ini menceritakan tentang bagaimana mereka meninggalkan rumah dua kali setahun untuk melakukan perjalanan penginjilan sebulan penuh. Dengan dana kurang dari US$25 untuk bekal makanan dan ongkos perjalanan, mereka bergerak dari satu kota ke kota yang lain untuk memberitakan injil sampai ada yang bertobat. Biasanya, para petobat baru mengundang dua penginjil muda tersebut untuk tinggal di rumah mereka. Petobat baru itu juga mengundang teman-teman dan sanak kerabatnya untuk mendengarkan pemberitaan tentang Yesus. 

Setelah sebuah gereja berdiri di sebuah kota/desa, maka dua penginjil muda ini akan berpindah ke kota/desa yang lain. Seringkali mereka harus berteduh di bawah pohon atau tidur di alam terbuka jika tidak bisa menemukan tempat berteduh. Dalam sebuah perjalanan yang baru saja mereka lakukan, kaki mereka memar-memar dan mengalami pendarahan akibat melakukan perjalanan selama 40 hari menyusuri pinggiran kota. Namun dalam jangka waktu tersebut mereka telah mendirikan 18 gereja dengan anggota kurang lebih 40 orang setiap gereja. 

Dua penginjil muda itu sharing kalau mereka telah melihat banyak sekali tanda ajaib dan mujizat ketika mereka berdoa. Salah seorang dari penginjil itu mengatakan bahwa Allah rindu memberitakan Firman- Nya dan Iman untuk menyatakan apa yang Yesus dapat kerjakan dalam diri mereka. kata salah seorang dari mereka. Dalam perjalanan mereka minggu yang lalu di sebuah kota di tepi pantai, mereka memberitakan Injil pada sebuah pertemuan di tempat terbuka dan hasilnya lebih dari 10.000 orang menerima Kristus.

Walaupun lelaki dan perempuan dari semua umur terlibat dalam penginjilan, wanita muda lebih banyak yang dikirim. Hal ini dikarenakan para penduduk lebih jarang mencurigai kedatangan mereka daripada jika ada dua orang pria asing yang masuk ke kota/desa mereka. Meskipun laporan tentang terjadinya tanda-tanda ajaib dan mujizat semakin meningkat, tidak ada satupun dari para pemimpin gereja bawah tanah yang meng-klaim keberhasilan itu sebagai usaha mereka sendiri. Para pemimpin gereja itu menyatakan bahwa mereka semua bersaudara dalam Yesus. Salah seorang dari pemimpin gereja itu mengatakan, "Kami yang disebut pemimpin pun hanya mengecap pendidikan sekolah dasar. Pendidikan kami tidak tinggi; bagaimana kami dapat melakukan pekerjaan sebesar ini? Namun saya percaya semua keberhasilan ini adalah pekerjaan Roh Kudus." 


Sumber: NEWSBRIEF -- 2002-03-14
http://kisahnyatadankesaksiankristen.blogspot.com/2011/03/penginjil-muda-memenangkan-cina.html


Kesaksian John Wesley: "Penginjil Yang Takut Mati"

Kesaksian John Wesley: "Penginjil Yang Takut Mati"

Pada akhir bulan Januari 1736, sebuah kapal barang bernama Simmonds, yang sedang berlayar menuju Savannah, Georgia, AS, diserang oleh angin topan. Kapal itu terombang-ambing dan terguncang dengan hebat di sela-sela gelombang yang tingginya enam meter di laut Atlantik. Air menyembur menyapu geladak kapal, membelah layar besar dari kapal layar itu dan mengalir ke dalam ruangan-ruangan di kamar itu.


Seorang pendeta gereja Anglikan bernama John Wesley, gemetar ketakutan. Beberapa orang Inggris di sekelilingnya berteriak panik dan kapal tampaknya semakin sulit dikendalikan. John Wesley telah memberitakan Injil keselamatan kepada orang lain, tetapi ia sendiri takut mati.

Sementara ombak terus menghantam geladak kapal, memorakporandakan layar kapal berkeping-keping, Wesley terheran-heran melihat beberapa orang dari Persaudaraan Moravia menyanyikan Mazmur dengan tenang. "Orang-orang malas yang bodoh," pikirnya.

Pada saat gelombang laut mulai tenang, Wesley mendekati pemimpin mereka dan bertanya, "Apakah Anda tidak takut badai?" "Tidak, Tuhan ada di pihak kami. Kami tidak takut mati."

Hari berikutnya Spangenberg, pendeta Moravia itu, memunyai sebuah pertanyaan bagi Wesley. "Saudara Wesley, kenalkah saudara dengan Yesus Kristus?" "Saya tahu bahwa Ia Juru Selamat dunia ini," Wesley menjawab.

"Tetapi dapatkah saudara mengatakan kepada saya apakah Ia telah menyelamatkan Saudara?" Wesley bingung. "Saya harap demikian," ia menjawab dengan perasaan tidak tenang.

Siapa Akan Menobatkan Aku?
Wesley (1703-1791) berasal dari keluarga yang sangat mengutamakan keteraturan dan kesopanan. Ayahnya, Pdt. Samuel Wesley, adalah seorang rohaniwan yang terpelajar dan saleh. Ia melayani di Epworth, Lincolnshire. Ibunya, Susanna, adalah putri seorang pendeta Nonkonformis. John adalah anak kelimabelas dari sembilanbelas bersaudara.

Ketika Wesley berusia enam tahun, rumah pendeta Samuel di Epworth terbakar. Seorang tetangganya, dengan berdiri di atas pundak kawannya, menolong anak itu dari sebuah jendela di tingkat dua. Wesley sadar bahwa Allah telah memelihara hidupnya.

Pada usia 17, Wesley melanjutkan studinya ke Universitas Oxford. Ia membaca banyak hal dan ia amat terkesan oleh bapak-bapak gereja yang mula-mula dan buku-buku ibadah klasik. Dari Holy Living karangan Jeremy Taylor, Imitation of Christ karangan Thomas A. Kempis, dan Serious Call to a Holy Life karangan William Law, Wesley belajar bahwa kehidupan Kristen merupakan pengudusan dari keseluruhan manusia dalam kasihnya kepada Allah dan sesamanya.

Orang-orang ini, katanya, "meyakinkan saya tentang ketidakmungkinan yang mutlak untuk menjadi setengah Kristen. Saya berketetapan, melalui kasih karunia-Nya, untuk menyerahkan hidup saya kepada Allah." Jadi ia mempelajari seluruh kelemahannya dan mencari cara-cara untuk mengatasinya.

Pada tahun 1726 Wesley memperoleh beasiswa dari Lincoln College di Oxford. Hal ini bukan hanya memberinya kedudukan secara akademis di universitas, melainkan ia juga akan menerima penghasilan secara teratur. Dua tahun kemudian, ia ditahbiskan menjadi pendeta Anglikan dan kembali ke Epworth selama beberapa waktu untuk melayani sebagai asisten ayahnya.

Ketika mulai melakukan tugasnya kembali di Oxford, ia mendapati bahwa saudaranya Charles, yang gelisah melihat perkembangan deisme di kampus, telah mengumpulkan sekelompok mahasiswa yang bertekad untuk menjalani kehidupan Kristen yang benar dan serius. John terbukti menjadi pemimpin yang dibutuhkan mereka. Di bawah bimbingannya, mereka membuat rencana studi dan peraturan hidup yang menekankan masalah doa, pembacaan Alkitab, dan mengikuti Perjamuan Kudus secara teratur.

Para anggotanya merupakan orang-orang yang sangat rajin dan tidak mau tinggal diam. Mereka terus-menerus mencari bermacam-macam cara agar kehidupan mereka sesuai dengan pola hidup orang Kristen mula-mula. Mereka membantu orang miskin, dan mengunjungi para narapidana. Tetapi Wesley mengakui bahwa ia kurang memiliki damai sejahtera seorang Kristen sejati.

Tidak lama kemudian, datang undangan dari Georgia. Seorang sahabatnya, Dr. John Burton, menyarankan agar John dan Charles melayani Tuhan di koloni baru yang dipimpin oleh Jenderal James Oglethorpe. Charles dapat menjadi sekretaris jenderal dan John menjadi pendeta tentara di koloni tersebut.

Kedua bersaudara itu berangkat dengan idealisme yang menggebu. Di Georgia, Wesley mendapati bahwa kehidupan orang-orang Amerika begitu buas. Di samping itu penghuni di koloni tersebut membenci cara hidupnya yang sangat rohani, penolakannya untuk memimpin upacara kematian seorang Nonkonformis dan larangan bagi wanita untuk memakai perhiasan dan gaun yang mahal harganya.

Rasa frustrasinya semakin berlipat ganda karena kisah cinta yang dijalinnya dengan Sophy Hopkey, seorang gadis berusia delapan belas tahun, keponakan hakim kepala Savannah, kandas di tengah jalan. Sophy akhirnya memutuskan hubungan dan melarikan diri kepada saingan Wesley. Wesley kemudian melarang mantan kekasihnya untuk mengikuti perjamuan kudus sehingga suaminya marah dan menggugat Wesley sebab ia dianggap telah merusak karakter Sophy. Pengadilan berkenaan dengan masalah itu berjalan berlarut-larut. Setelah mendalami gangguan selama enam bulan, akhirnya ia kembali ke Inggris dan perjalanan misinya berakhir dengan kegagalan.

Dalam perjalanan pulang itulah Wesley kembali merenungkan seluruh pengalaman hidupnya. Ia menulis, "Aku datang ke Georgia untuk mempertobatkan orang-orang Indian, tetapi siapa yang akan mempertobatkan aku?"

Pertobatan John Wesley
Wesley mendarat di Inggris pada tanggal 1 Februari 1738 dalam keadaan terpukul dan tidak yakin akan imannya sendiri dan masa depannya. Pada waktu itulah ia mendengar bahwa di seluruh Inggris orang-orang sedang membicarakan khotbah-khotbah rekannya yang dahulu sekelas di Oxford, George Whitefield. Whitefield telah mengalami pertobatan yang dramatis dan telah berkhotbah tentang kelahiran baru kepada banyak orang.

Pada waktu itu Charles, saudara kandung John Wesley, sedang sakit. John dengan terburu-buru pergi ke rumah Charles, tetapi ia mendapatkan bahwa Peter Bohler, seorang anggota Gereja Moravia, telah tiba lebih dahulu. Dari pertemuannya dengan Bohler, ia mulai mengerti bahwa iman bukan hanya sekadar sebuah doktrin, melainkan suatu pengalaman memperoleh pengampunan dari Allah.

Tetapi Wesley bertanya, "Bagaimana iman dapat diberikan dalam sekejap mata?" Ia mendapatkan jawabannya beberapa hari kemudian.

Pada tanggal 20 Mei tahun 1738 Charles Wesley menerima kepastian penuh akan keselamatannya setelah membaca Tafsiran Kitab Galatia karangan Luther.

Kira-kira jam lima pagi hari berikutnya, John membuka 2 Petrus 1:4 dan membaca, "Dengan jalan itu Ia telah menganugerahkan kepada kita janji-janji yang berharga dan yang sangat besar, supaya olehnya kamu boleh mengambil bagian dalam kodrat ilahi."

Pada malam harinya ia diundang menghadiri suatu pertemuan perkumpulan Kristen di Jalan Aldersgate. Ia menulis, "Pada suatu sore, dengan rasa segan, saya pergi ke sebuah pertemuan di Jalan Aldersgate. Di pertemuan itu ada seseorang yang membacakan kata pengantar Luther untuk Kitab Roma. Sementara ia menjelaskan, suatu perubahan dari Allah terjadi dalam hati saya melalui iman kepada Kristus. Saya merasa bahwa saya benar-benar percaya kepada Kristus, hanya Kristus saja, untuk memperoleh keselamatan.

Hati saya terasa hangat sebab suatu jaminan diberikan kepada saya bahwa Ia telah menghapuskan semua dosa saya, dan menyelamatkan saya dari hukum dosa dan maut."

Demikian Wesley memperoleh jaminan yang tidak dimilikinya, suatu kehidupan yang akan membuatnya bertahan selama setengah abad dengan energi yang tiada duanya. Ia telah menemukan pesan hidupnya.

Dari Pesan kepada Metode
Pada musim panas berikutnya Wesley mengunjungi kelompok Moravia di pusatnya di Sakson. Ia ingin melihat sendiri kuasa seperti yang disaksikannya di atas kapal.

Ia bertemu dengan banyak orang yang memberikan teladan "jaminan sepenuhnya dari iman Kristen". Tetapi dengan cepat ia dapat melihat tanda-tanda pembenaran terhadap diri sendiri dalam diri mereka.

Tidak lama kemudian, Wesley dan kelompok Moravia berpisah. Meskipun begitu ia sempat mendapat banyak hal dari mereka, terutama akan hal pembenaran oleh iman dan sistem kelompok kecil mereka dalam membangun pertumbuhan rohani.

Beberapa waktu kemudian Wesley menerima undangan yang tidak terduga. George Whitefield telah mengikutinya sampai ke Georgia pada tahun 1738, tetapi kembali pada musim gugur tahun itu untuk ditahbiskan menjadi pendeta. Karena tidak puas dengan kesempatan yang diberikan kepadanya di mimbar, ia mulai berkhotbah di lapangan-lapangan terbuka di dekat Bristol kepada para pekerja tambang batu bara yang jarang berani memasuki gereja.

Suara Whitefield terang dan keras, dan kepiawaiannya dalam berkhotbah begitu menggerakkan hati pendengarnya sehingga ia dapat melihat "linangan air mata" mengalir dari pipi mereka yang hitam sementara mereka keluar dari lubang tambang. Ketika sejumlah besar pekerja tambang batu bara memohon belas kasihan Allah, Whitefield mendorong Wesley berkhotbah secara terbuka.

Wesley tahu bahwa ia tidak dapat dibandingkan dengan kepandaian Whitefield dalam berkhotbah. Whitefield berbicara sebagaimana layaknya seorang cendekiawan dan pria terhormat. Tetapi yang menjadi keraguannya ialah karena sebelumnya ia tidak pernah membayangkan bahwa ia harus berkhotbah di tempat terbuka. Mengenai hal itu ia menulis, "Karena sepanjang hidup saya begitu keras kepala menghubungkan segala sesuatu dengan kesopanan dan aturan, saya hampir-hampir berpikir bahwa menyelamatkan jiwa seseorang di luar gereja merupakan suatu dosa."

Sejak itu ia rajin mengadakan kebangunan rohani di mana-mana. Sepanjang sisa hidupnya ia berkhotbah kepada lebih dari 3.000 orang di tempat terbuka dan pertobatan selalu terjadi. Kebangunan rohani golongan Metodis telah dimulai.
Wesley memberitakan kabar Injil kepada orang miskin di mana pun orang mau menerimanya. Ia menulis, "Saya memandang seluruh dunia sebagai jemaat; beban saya ialah memberitakan kabar kesukaan dan keselamatan kepada setiap orang yang mau mendengarkannya."

Ia berkhotbah di penjara, di pemondokan kecil, dan di atas kapal. Pada sebuah amfiteater di Cornwall ia berkhotbah kepada 30.000 orang. Ketika ia tidak diizinkan masuk dan berkhotbah dalam gereja Epsworth, ia berkhotbah kepada ratusan orang di halaman gereja sambil berdiri di atas makam ayahnya.

Dalam catatan hariannya tertanggal 28 Juni 1774, Wesley mengklaim bahwa sedikitnya ia telah mengadakan perjalanan sejauh 7.250 km setahun. Itu berarti sepanjang hidupnya ia telah mengadakan perjalanan sejauh 400.000 km, atau 10 kali keliling dunia. Sebagian besar perjalanannya dilakukan dengan naik kuda.

Wesley meninggal di London pada tanggal 2 Maret 1791. Usianya mendekati 88 tahun dan meninggalkan 79.000 pengikut di Inggris dan 40.000 di Amerika Utara.

Setelah kematiannya, golongan Metodis di Inggris mengikuti jejak saudara-saudaranya di Amerika Serikat dengan memisahkan diri dari gereja Anglikan.

Pengaruh Wesley dan kebangunan rohani yang diadakannya berdampak luas melewati batas-batas gereja Metodis. Wesley telah membawa pembaruan dalam kehidupan beragama di Inggris dan koloni-koloninya.


YESUS KRISTUS Mengasihi Anda..





Sumber:
  1. Majalah Sahabat Gembala Agustus/September 1991.
  2. "Bagaimana Tokoh-Tokoh Kristen Bertemu dengan Kristus", James C. Hefley.

Sumber:
http://langkah-jejak.blogspot.com/2011/10/kesaksian-john-wesley-penginjil-yang.html